Apakah begini case Frenkie De Jong?

Oct 14, 2024

Mungkin beberapa fans bertanya tanya, “kenapa ya Barcelona di era laporta tidak ada perkembangan, problemnya selalu sama, kalau bukan financial ya kebijakan transfernya aneh aneh”. Semenjak terpilihya Laporta beberapa tahun lalu mungkin sebagian Fans menyambut gembira kembalinya sang presiden yang di era 2004-2010 bisa memberikan banjir Piala ke Barcelona, bahkan beberapa kebijakan Transfer tidak mengalami kendala yang signifikan, tidak seperti sekarang yang untuk mendaftarkan pemain gratis saja sangat sulit rasanya. Memang permasalahan ini bak gayung bersambut dari era Bartomeu bahkan Sandro Rosell sebagai pengganti Laporta dulu, bagaimana tidak kebijakan transfer dan pengelolaan keuangan yang terlalu “Ngawur” seperti pembelian pemain selepas kepergian neymar ke PSG menjadi titik awalnya, mendapatkan uang segar belum tentu bisa membangun tim yang solid kembali, bahkan puncaknya sang legenda Lionell Messi juga angkat kaki karena permasalahan ini. Balik permasalahan utamanya, ada beberapa pemain yang mendapatkan kenaikan gaji selepas pandemi COVID-19, dan beberapa pemain tersebut sudah keluar dari tim utama, tinggal tersisa seorang Frenkie De jong, yang memiliki gaji tertinggi di eropa saat ini dengan nominal gaji sekitar 700.000 Euro per minggu, sungguh heran kenapa manajamen bahkan laporta tidak bisa menangani situasi seperti ini, kalau memang Kasus Frenkie De Jong ini menjadi hambatan, seharusnya Laporta bisa dengan gampang menyelesaikan ini, karena pengalaman menghandle sekaliber Lionell Messi aja dengan mulus terlaksana dengan desakan fans yang cukup tinggi. Sepertinya Laporta masih membutuhkan Frenkie De Jong, terlebih lagi beberapa pelatih juga masih memainkannya, tidak bisa di pungkiri juga dia masih salah satu DM terbaik pada stok yang ada. Permasalahannya Laporta sepertinya masih bingung dan bimbang dalam penyelesaian permasalahan ini, kalau saja bisa mengambil langkah tegas, dengan memberikan opsi, turun gaji tetap stay atau out. Dari sisi pemain juga mengeluarkan statement bahwasanya itu hanya kelihatan besar di laporan saja, sebenarnya itu ada akumulasi gaji yang dia terima setelah melakukan penurunan gaji era Covid kemarin, perlu kita ketahua juga gaji Dejong sesuai dengan data dari Capology yang walnya ada di angka 493.000 euro turun ke angka 120..000 Euro dan naik tahun berikutnya 360.769 Pertanyaan selanjutnya adalah apakah penurunan gaji itu sifatnya murni penurunan atau bersifat hutang atau restrukturisasi? Mungkin bisa kita hitung pelan pelan sesuai data yang kita pegang dari capology

  1. Defisit gaji di tahun 2019-2020 sesuai kontrak awal dan seletah penurunan gaji awal pada tahun 2020-2021 yang di setahunkan adalah 17.935.392 Euro, otomatis Dejong memliki pendapatan yang masih di hold pihak manajemen.
  2. Pada tahun 2021-2022 terjadi kenaikan sebesar 11.556.912 atau naik 5.796.912 dari tahun 2020-2021. Dan disini dejong masih ada menyimpan pundi pundi sebesar 6.378.480 euro per tahun pendapatan.
  3. 2022-2023 yang sekarang menjadi masalah sekarang adalah gaji melonjak 100% lebih ke angka 721.154 atau 34.615.392 euro pertahun, apakah ini yang menjadi masalah? Kalau kita lihat bagaimana skema ini sebenarnya kenaikan sepertinya adalah jumlah yang harus di bayarkan Manajemen karena skema Restrukturisasi gaji yang terjadi di awal era covid, dari mana angka 721 154 euro ini?
  4. Kita asumsikan ada selisih gaji 2019-2020 ke 2020-2021 sebesar 17.935.392 Euro setahun dari kontrak awal yang seharusnya Dejong dapat 23.695.392 pertahun menjadi 5.760.00 Euro Pertahun pada tahun 2020-2021.
  5. Di tahun berikutnya barca menyicil utang tersebut akan tetapi masih ada deifist angka sebesar 6.378.480 Euro Pertahun, dengan kata lain ada 24.313.872 euro pertahun lagi yang harus di bayarkan
  6. Masuk ketahun 2022-2023 manajemen mencoba membayar dengan sudah kembalinya kondisi ekonomi dengan membayarkan defisit gaji dengan angka 721.154, kalau melihat skema yang di berikan Manajemen, masih ada defisit 506.539 Euro Per minggu atau 24.313.872 per tahun. Melihat skema ini kemungkinan detail gaji yang di peroleh Frenkie De Jong adalah balik ke skema awal 493.654 di tambah 227.500 dari sisa defisit gaji yang harus di bayarkan. Dengan kata lain, masih ada sisa gaji 279.039 per minggu atau 14.012.352 Euro per tahun.
  7. Dengan kata lain, untuk musim atau tahun 2023-2024 Gaji De jong tidak akan turun dari 721.154 di karenakan tahun ini sebagai pembayaran terakhir sisa defisit gaji alias kewajiban manajemen kepada pemain dengan sisa gaji per minggunya 279.039 atau 14.012.352 per tahun.

Skema di atas hanyalah hitung hitungan penulis dalam menganalisa beberapa situasi dari berbagai

sumber yang ada seperti ; Capology.com dan juga Annual Report per 2019-2022 yang di mana pada

beberapa point terdapat dalam sub sub pembayaran hutang ada klausal dan nominal yang harus di

bayarkan kepada beberapa pemain, termasuk Frenkie De jong.

Kalau melihat skema ini mungkin ini tahun adalah tahun terakhir kita melihat angka 721.154 yang ada di

laporan keuangan pada capology dan pihak manajemen juga membuka keran negosiasi untuk Frenkie

Dejong dalam mengurangi jumlah gajinya yang masih nyentuh di angka 400.000 per minggu.

Sepertinya melihat gaya dan kebiasaan laporta dalam mendepak pemain, tentu urusan Frenkie De Jong

tidak lah sulit bagi Laporta, yang jadi permasalahannya memang masa transisi ini memang sangat sulit di

tambah peraturan FFP yang di perketat sehingga bursa pembelian pemain juga terlihat lesu dalam

beberapa musim ini, pemain bintang juga lebih memilih keluar dari eropa yang sudah lebih ketat lagi.

Kalau memang Frenkie De Jong dalang atau puncak permasalahannya Barcelona saat ini, sehingga di cap

“Pencuri” dari beberapa Fans , ada baiknya Laporta mengambil langkah cepat bahkan siap menanggug

segala konsekuensi yang ada, sehingga Hansi Flick bisa bebas meracik tim yang dia inginkan